Senin, 09 Juli 2012

Langkah Awal Mengubah Paradigma Pendidikan

                                           

Depdiknas akan membeli copyright buku pelajaran dan akan meng-upload ke Jardiknas sehingga dapat disebarluaskan secara bebas.

Pendidikan Indonesia memasuki era baru. Suatu upaya mengubah paradigma pendidikan di Indonesia tengah bergulir. Salah satu faktor yang akan menjadi media pengubah adalah teknologi informasi dan komunikasi
(information and communication technology).

Mendiknas Bambang Sudibyo mengungkapkan dengan menggunakan TIK, ada kesempatan untuk mengubah paradigma pendidikan. ''Jika sebelumnya menggunakan paradigma pengajaran dimana guru bertindak sebagai subjek sementara murid bertindak sebagai objek. Kini harus mengarah ke paradigma pembelajaran dengan guru dan murid sama-sama bertindak sebagai subjek. Sehingga posisi keduanya sejajar,'' kata Mendiknas 'Semiloka Teknologi Maju untuk e-Pembelajaran', di Jakarta, pekan lalu.

Pengajaran menggunakan TIK, menjadikan sumber ilmu pengetahuan menjadi tidak terbatas. Setiap siswa dapat aktif mencari sumber ilmu pengetahuan lain. Bandingkan jika hanya mengandalkan guru yang memiliki ilmu pengetahuan yang terbatas.

Manajemen pendidikan bakal berfokus kepada dua pijakan. Yaitu penyediaan akses pendidikan yang cukup dan merata untuk seluruh masyarakat. Serta untuk memperbaiki kualitas, kompetisi, dan relevansi pendidikan terhadap kebutuhan masyarakat. ''Khusus untuk Indonesia, ditambah dengan upaya untuk memperbaiki tata kelola pemerintahan di bidang pendidikan,'' kata Bambang.

Pandangan serupa dilontarkan Chairman of the Board Intel Corporation Craig R Barrett. Ia menjelaskan, ada empat kunci untuk pendidikan saat ini. Yaitu akses ke teknologi, konektivitas, konten yang sesuai dengan
kebutuhan masyarakat lokal, dan guru yang memiliki kemampuan untuk menggunakan TIK. ''Untuk mempercepat akses teknologi dan pendidikan, Intel akan menanam modal sebesar 1 miliar dolar di seluruh dunia dalam kurun waktu lima tahun,'' kata Barret.

Intel juga mendukung program-program pendidikan. Seperti World Ahead, Program Pendidikan TIK, program 1:1 e-learning, Intel Teach, dan Intel Skool. Program 1:1 e-learning adalah metode dengan pelajar sebagai pusat dari pembelajaran. Ini dilakukan dengan memberikan laptop pribadi dan akses ke pengajar yang kompeten.

Selama 2007, Intel telah mendonasikan 725 unit lap top ke 33 sekolah. Targetnya, 4 ribu unit komputer akan diberikan selama kurun waktu empat tahun. Pada 2008, Intel juga menargetkan melatih 10 ribu guru di
Indonesia melalui program Intel Teach. Tahun sebelumnya, Intel telah melatih 2 ribu guru.

Implementasi TIK di dunia pendidikan menjadi perhatian dunia internasional. World Summit on The Information Society (WSIS) yang diprakarsai International Telecommunication Union (ITU), membuat standar TIK pendidikan, untuk diterapkan selambat-lambatnya 2015. Standar dimaksud antara lain, 50 persen lembaga pendidikan dan pusat studi dan penelitian telah terhubung dengan TIK, tingkat e-literacy masyarakat sekurang-kurangnya 50 persen.

Indonesia, kata Mendiknas, berkomitmen memenuhi standar itu. ''Untuk memenuhi sasaran tersebut, setidaknya ada tujuh fase dikembangkan,''ujar Bambang. Aksi ini dimulai tahun 2005 dengan pengembangan jaringan pendidikan nasional (Jardiknas) dan menetapkan pendidikan berbasis TIK secara massal.

Jardiknas Hingga akhir 2007, telah tersambung 865 zona kantor dinas pendikan (OfficeNet) dan lebih dari 10 ribu node di zona sekolah (SchoolNet), 319 zona perguruan tinggi (Inherent) yang terdiri dari 83 node perguruan tinggi negeri, 200 node perguruan tinggi swasta, dan 36 node Unit Pendidikan Belajar Jarak Jauh Universitas Terbuka (UPBJJ) yang secara keseluruhan melayani sekitar 60 persen populasi mahasiswa.

Pada 2009 Jardiknas diharapkan menjangkau 1.489 (55 persen) node di zona perguruan tinggi, 27.297 (9,3 persen) node di zone sekolah, dan 10 ribu (0,3 persen) node di zona personal (StudentNet, TeacherNet, dan LectureNet).

Bersamaan dengan masuknya TIK ke dalam kurikulum pendidikan, berlangsung fase penyediaan sumber daya komputansi. Saat ini terdapat 4.413 lab komputer (44,6 persen) dari 9.897 SMA, 4.760 lab (70 persen) dari 6.800 SMK, dan 7.643 lab (31 persen) dari 24.686 SMP. Diperkirakan, pada 2009 jumlah komputer yang terhubung di Jardiknas akan mencapai lebih dari 1,57 juta unit.

Fase penyiapan sumber daya manusia dimulai pada tahun 2006, setahun kemudian diselenggarakan pelatihan Jardiknas untuk kepala sekolah, guru, tata usaha, dan pustakawan yang diikuti 38 ribu peserta dan menjangkau 216 kabupaten/kota. Kami menerapkan sistem multilevel training. Dengan begitu, diharapkan pada tahun ini akan terdapat 66 senior trainer, 6.600 master trainer, dan 66 ribu participant teacher, ungkap Mendiknas.

Sementara fase mobilisasi konten merupakan gerakan penting setelah infrastruktur. Dengan kapasitas bandwith 3,9 Gbps dan total kapasitas penyimpanan data pusat 15 terabyte, pada tahun 2009 Jardiknas mampu menampung 2 juta modul dalam bentuk teks dan grafik berukuran 5-50 MB per modul. Atau 50 ribu modul dalam bentuk video durasi 30 menit.

Fase kolaborasi konten, merupakan konsekuen logis ketika Jardiknas telah menjadi pusat sumber belajar terbesar di Indonesia. Yang sedang dikembangkan Depdiknas sekarang ini adalah e-book. Depdiknas akan membeli copyright buku pelajaran dan akan di-upload ke Jardiknas, sehingga buku dapat didownload dan disebarluaskan secara bebas.

'Buku' ini bahkan dapat dijualbelikan. Syaratnya, harga jual buku tersebut tidak boleh melewati rentang harga yang ditetapkan Depdiknas. Harga buku tersebut sekitar sepertiga harga di pasaran. Yaitu antara Rp 4.500 sampai Rp 14 ribu. Sampai saat ini, sudah ada 37 copyrights yang kami beli, jelas Mendiknas.

Komputer Murah
Implementasi TIK di dunia pendidikan mendapat dukungan pihak lain. Jumat, Intel Indonesia dan IM2 menandatangani kerjasama pengadaan komputer dengan harga terjangkau dan akses internet kecepatan tinggi di sekolah-sekolah. Tahap awal, dipilih tiga sekolah sebagai pilot project selama tiga bulan, yakni SD Labschool, Al-Azhar dan SD Penabur.

''Ke depannya, kami akan kembangkan di 10 kota besar di Indonesia, seperti Surabaya, Semarang, Bandung dan Medan. Pilot Project tersebut dilakukan untuk mencari model pembelajaran yang paling tepat menggunakan perangkat yang ada untuk kemudian dicopi ke sekolah-sekolah lain di 10 kota tersebut. Proyek ini rencananya akan berlangsung selama tiga tahun, '' ungkap Direktur Utama IM2, Indar Atmanto.

Country Manager Intel untuk Indonesia, Budi Wahyu Jati menambahkan bahwa komputer dengan harga terjangkau dan akses internet cepat harus bisa tersedia untuk semua orang. ''Infrastruktur broadband yang kuat sangat penting untuk meningkatkan kemampuan Indonesia dalam berkompetisi secara global,'' kata Budi.

Namun, bukan berarti sekolah tidak mengeluarkan biaya untuk dapat menikmati fasilitas ini. Meskipun harga yang ditawarkan merupakan harga khusus sektor pendidikan, sekolah tetap harus merogoh kocek untuk membayar perangkat hardware yang dapat diangsur hingga 12 kali dan membayar tagihan internet setiap bulannya.

''Kolaborasi yang dilakukan dengan IM2 ini merupakan salah satu upaya Intel untuk mencapai pertumbuhan dua kali lipat dari pertumbuhan rata-rata jumlah pengguna akses broadband wireless sebelum 2012,'' kata Budi.

PENGENALAN MAHAYANA DAN RITUALNYA




Mahayana secara harafiah mempunyai arti:
            Maha   : berarti besar, luas, agung
            Yana    : berarti kendaraan atau kereta.

Mahayana berarti kendaraan besar yang mengangkut pengemudi bersama penumpangnya mencapai suatu tempat tujuan yang sama. Ajaran Buddha membimbing penganut-Nya seperti sebuah kendaraan besar yang mengangkut pengemudinya bersama-sama para penumpangnya mencapai tempat tujuan yang sama yaitu NIRVANA.

Asal Usul Mahayana
1.Setelah Buddha Parinirvana barulah timbul pengelompokkan sekte-sekte. Tidak lama setelah Buddha Parinirvana diadakan: Konsili I di Rajagraha (membahas Dharma dan Vinaya) 543 SM 500 Arahat menyusun kembali Doktrin ajaran Buddha.
2.Konsili II di Vaisali 443 SM masa raja Ajatasatu sebagian merasa perlu merubah beberapa aturan kecil sebagian tidak. Timbul tradisi yang berbeda Sthaviravada(Theravada 247 SM) dan Mahasanghika (Mahayana 150 SM-100 M).
3.Konsili III di Pataliputta pada tahun masa Raja Asoka membahas pendapat yang dianut oleh Sangha.
4.Munculnya Mahayana yang dipelopori oleh NAGARJUNA dan ARYA DEVA
5.Konsili IV (Titik Perkembangan Mahayana)
6.Tahun 78 SM di Kashmir dipimpin oleh Vasumitra dan Asvagosa dilaksanakan atas anjuran Raja Kanisha. Merupakan titik awal perkembangan Mahayana, dimana konsili IV ini tidak dihadiri oleh golongan Sarvastivada yang merupakan sesepuh dari Theravada.
•  Buddha Dharma hanya ada satu yaitu ajaran Sakyamuni Buddha yang berdasarkan cara atau metode latihan diri untuk menjadi Buddha.
•  Buddha Dharma dibagi menjadi 2 tingkat sebagai upaya untuk kemudian memberi bimbingan kepada para umat yaitu:
•  Ajaran yang membimbing umatnya menjadi Arahat dan Pratyeka Buddha disebut sebagai Hinayana/Theravada (Ajaran dasar).
•  Ajaran yang membimbing umatnya menjadi Bodhisattva dan Samyak-Sambuddha disebut sebagai Mahayana (Ajaran yang diperluas)

Ciri-Ciri Mahayana:
•    Mempergunakan bahasa Sansekerta/Mandarin
•    Lebih bersifat religi dan filosofis
•    Pencapaian nirvana melalui pengetahuan sempurna
•    Setiap makhluk memiliki sifat kebuddhaan
•    Semua manusia tergolong Bodhisattva
•    Dukkha yang merupakan suatu ciri dari kehidupan hanyalah bersifat maya.
•    Mengajarkan tentang yang absolut atau yang sunyata
•    Buddha historis seperti Buddha Gotama merupakan proyeksi atau pancaran dari Yang Absolut.
•   Pembebasan tidak hanya tercapai dengan usaha sendiri tapi juga melalui bantuan makhluk lain.
•   Bercita-cita menjadi Bodhisattva untuk membebaskan setiap makhluk, daripada mencapai Arahat, keselamatan pribadi.

Pengertian Bodhicitta
Bodhicitta adalah kesadaran Buddha yang dimiliki oleh setiap makhluk. Bodhicitta merupakan pondasi, sumber dari macam munculnya kebaikan, sumber dari usaha dan kebahagaiaan serta sumber  dari kesucian, terdiri dari:
•   Bodhi Pranidhi Citta: tingkat persiapan pencapaian kebuddhaan.
•   Bodhi Prastana Citta: tingkat pelaksanaan sesungguhnya dalam menuju cita-cita.  

Tiga kualitas yang menjadi ciri Bodhisattva:
1. Cita-citanya yang teguh untuk membebaskan semua makhluk dari penderitaan samsara.
2. Pikirannya yang tak tergoyahkan
3. Usahanya yang tak mengenal menyerah

Upaya Kausalya
Upaya Kausalya adalah metode dalam Mahayana untuk menerangkan Dharma Sang Buddha, metode ini sifatnya praktis. Misalnya ketika penyebaran Agama Buddha tersebar kedaerah-daerah lain, maka dengan tanpa mengubah nilai spiritual yang terkandung ajaran, digunakan metode yang lincah dan lunak untuk membimbing umat mencapai pengertian pada Buddha Dharma.

•  Upaya Kausalya dipergunakan metode yang beragam dan bervariasi, apakah dengan puja bhkati, pembacaan doa, upacara agama, pembakaran dupa, fangsen dan pemasangan lilin serta pembacaan sutra atau meditasi dll. Terserah kepada mereka dan kesanggupan umat masing-masing dalam melakukannya juga termasuk dalam pembabaran Dharma. Upaya Kausalya merupakan metode yang praktis dan sesuai dengan kondisi dan situasi. Untuk mengembangkan kebajikan, peningkatan spiritual maupun penyebaran Dharma itu sendiri demi mencapai cita-cita tinggi.

Berbagai macam cara Buddha dalam menerangkan Dharma:
1.  Sutra    : khotbah-khotbah Sang Buddha dalam menyebarkan Dharma.
2.  Gatha  : syair-syair pujaan/pujian yang mengisahkan pujaan-pujaan
3.  Ittivuttaka       : mengisahkan kehidupan lalu para siswa
4.  Jataka  : mengisahkan kehidupan Tathagata
5. Adbhuta          : mengisahkan kemujizatan Sang Buddha serta Bodhisattva.
6. Nida    : mengisahkan sebab akibat
7. Aupanya          : dengan perumpamaan yang mudah untuk menerangkan hal- hal yang
                          sukar dimengerti
8. Geya    : syair yang diucapkan untuk menyimpulkan apa yang telah diterangkan
                    semula serta menitik beratkan artinya.
9. Upadesa          : menerangkan hal-hal yang sukar dimengerti dengan cara tanya jawab. 



Bodhisattva dalam Mahayana:          
        Avalokitesvara Bodhisattva
            Berada di tengah melambangkan maitri karuna (cinta kasih)
     Manjusri Bodhisattva
            Berada disebelah kanan melambangkan panna (kebijaksanaan)
       Samanthabadra Bodhisattva
Berada di sebelah kiri dengan menunggangi seekor gajah putih melambangkan virya (semangat) dan kebahagiaan.
       Ksitigarbha Bodhisattva
Adalah Bodhisattva yang bertekad untuk menolong semua makhluk agar terbebas dari neraka, bertekad untuk mengosongkan neraka.

4 Kualitas dasar dari 4 Bodhisattva dalam Mahayana
       Avalokitesvara Bodhisattva
            Adalah sebagai lambang welas asih
       Manjusri Bodhisattva 
            Adalah sebagai lambang kebijaksanaan
       Samanthabadra Bodhisattva
            Adalah sebagai lambang kasih dan kegiatan
       Ksitigarbha Bodhisattva
Adalah sebagai lambang keagungan dalam sumpah untuk menolong dan melepaskan makhluk sengsara.
                         
Pokok-pokok Dasar Ajaran Mahayana ada 5 yaitu:
         Tri Ratna (Buddha, Dharma dan Sangha)
         4 Kesunyataan Mulia(Catvari Arya Satyani) dan 8 Jalan Utama (Hasta AryaMarga)
         Tiga Corak Universal (Anicca, Dukkha, dan Anicca)
         Hukum Pratyasamudpada
         Hukum Karma dan Kelahiran Kembali

Pengertian Bodhisattva Sila
            Bodhisattva Sila adalah aturan atau disiplin dalam Mahayana untuk melaksanakan aturan kebodhisattvaan, yang terdiri dari 58 pasal meliputi:
            1. Garukapatti (kesalahan besar) terdiri dari   10 pasal
            2. Lahukapatti (kesalahan ringan) terdiri dari             48 pasal.

Macam-Macam Penghormatan
•           Berlutut (Zan Kui)  
•           Membungkuk setengah badan (Wen Sin)  
•           Pradaksina/Rau Fo  (mengelilingi rupang Buddha)atau Stupa
•           Bernamaskhara
•           Hui Siang  





Makna Prosesi/Pradaksina
1)         Pradaksina (Sanskrit) atau Padakkhina (Pali)
2)         Pradaksina artinya berjalan dengan sikap anjali, dengan meletakkan tangan di depan dada sambil merenungkan sifat-sifat agung Tri Ratna mengelilingi altar searah jarum jam sebanyak 3 kali putaran, baik di vihara maupun candi.
3)         Hal ini bermakna bahwa setiap langkah dalam kehidupan ini, hendaknya kita selalu hormat, baik kepada guru, orang tua kita, maupun sesama makhluk hidup.

4)         Upacara Ksamayati (Pai Chan) merupakan suatu upacara pertobatan, dengan cara melakukan Namaskhara kepada para Buddha dan Bodhisattva dengan menyatakan penyesalan yang tulus atas segala tindakan buruk yang pernah dilakukan serta bertekad untuk tidak mengulangi lagi.


Sankung :

Puja ritual persembahan makanan kepada para Buddha dan Bodhisattva pada hari Uposatha (1,8,15,23) yang biasa dilakukan pada pagi hari antara jam 10.30 sampai 11.30 pagi. Tidak dilaksanakan setelah lewat jam 12 siang.

Manfaat Parinimana/Hui Siang:
1.         Seseorang yang penuh keyakinan melatih diri setelah selesai membaca sutra/paritta/gatha, memuji nama agung para Buddha dan Bodhisattva maka akan terlahir di surga Sukhavati.
2.         Parinimana dapat dilakukan pada saat-saat kita berbuat baik, dengan demikian jasa pahala kita akan bertambah.
3.         Dapat terlahir di alam manusia/dewa, atau Sukhavati alam yang penuh kebahagiaan.
4.         Isi arti Parinimana/Hui Siang
5.         Saya dengan sepenuh hati, melimpahkan jasa dan kebajikan yang diperoleh, untuk membantu memperindah tanah suci para Buddha, dengan jasa dan pahala ini pula dapat membalas empat budi besar;ayah, ibu, guru, dan Buddha. Menolong makhluk hidup yang ada di tiga alam samsara; alam binatang, alam setan kelaparan, dan alam neraka. Kalau ada makhluk yang melihat dan mendengar saya membaca sutra/paritta, semoga semuanya bertekad membangkitkan kebodhian, yaitu mencapai kebuddhaan dan menolong para makhluk, sampai akhir penghidupan ini bersama-sama lahir di alam Sukhavati.

BERBAGAI MACAM RITUAL DALAM TRADISI MAHAYANA
1.         Upacara dalam tradisi Mahayana terdiri dari hari-hari besar agama Buddha, persembahan
2.         puja, puja pagi, dan puja sore serta pertobatan.
3.         Upacara hari besar agama Buddha tradisi Mahayana diantaranya terdiri dari :
4.         Upacara hari lahirnya Pangeran Siddharta yang jatuh pada tanggal 8 bulan 4 penanggalan
5.         lunar, biasanya pada hari tersebut diadakan Puja Bhakti pencurahan air bunga pada
6.         rupang bayi Pangeran Sidharta ( I Fo)
7.         Hari hari besar Buddha dan Bodhisattva lainnya diantaranya hari besar bhaisajaguru Buddha (Akhir bulan 9 penanggalan lunar).
8.         Amitabha Buddha (tanggal 17 bulan 11 penanggalan lunar)
9.         Maitreya Bodhisattva (tanggal 1 bulan 1 penanggalan lunar) bertepatan dengan tahun baru imlek (Sin Cia)
10.       Avalokitesvara Bodhisattva (tanggal 19 bulan 2, 6 dan 9 penanggalan lunar.
11.       Mahastmaprapta Bodhisattva (tanggal 3 bulan 7 penanggalan lunar)
12.       Ksitigarbha Bodhisattva (akhir bulan 7 penanggalan lunar)
13.       Serta Buddha dan Bodhisattva lainnya. Perayaan hari-hari besar tersebut selalu ditandai dengan pembacaan sutra, mantra, pelafalan nama Buddha, persembahan puja, pemasangan pelita maupun Ksamayati/pertobatan.
14.       Hari Ulambana, yang dalam tradisi Theravada disebut hari Kathina, yaitu hari persembahan empat kebutuhan pokok kepada anggota Sangha. Dan pada sore/petang harinya diadakan acara Ta Meng San oleh anggota Sangha, jasa kebajikan dari upacara ini dipersembahkan untuk umat yang mempersembahkan empat kebutuhan pokok tersebut, beserta leluhur dan sanak keluarga yang masih hidup maupun yang telah meninggal.

Ksamayati (Pai Chan)

Ada 4 kekuatan yang dibutuhkan:
1. Kekuatan penyesalan
            Perasaan menyesal atas kesalahan yang telah dilakukannya
2. Kekuatan penawaran
            Perbuatan baik apapun dapat mengimbangi/mengikis karma buruk kita
3. Kekuatan berpaling dari kesalahan
            Kekuatan ini berupa janji untuk meninggalkan perbuatan buruk yang kita alami
4. Kekuatan landasan
Keyakinan pada Tri Ratna tidak timbul dari suatu kepercayaan buta atau pasrah saja

Persembahan ini biasanya terdiri dari 6 macam sayur dan 1 mangkok nasi ditambah dengan satu mangkok kecil nasi untuk Cu Se.

Cu Se berarti memberi makan kepada makhluk yang kelaparan dengan memvisualisasi(membayangkan) makanan yang kita berikan menjadi banyak. Di vihara yang mana banyak anggota Sangha yang menetap setiap hari dilakukan sebanyak tiga kali (pagi-siang-sore/malam).

Ritual Pai Chan yang biasa dilakukan:

•           Fak Sek Fak Fo hung Ming Pau Chan
•           Chien Fo Hung Ming Pau Chan
•           San Chien Fo Hung Ming Pau Chan
•           I Wan Fo Hung Ming Pau Chan
•           Yao She Pau Chan
•           Ta Pei Chan
•           A Mi Tho Pau Chan
•           Che Pei San Mei Sui Chan
•           Liang Huang Pau Chan
•           Cingkang Pau Chan
•           Ti Cang Chan Fa Ti Kui

Ritual Fang Sen
•           Adalah praktek menyelamatkan hewan dari bahaya, kematian dan penderitaan.
•           Berarti melepaskan makhluk hidup ke alam bebas (habitatnya).
•           Fangsen dilakukan atas dasar cinta kasih, dengan melakukan fangsen berarti kita melatih diri kita untuk membangkitkan metta yang ada dalam diri kita masing-masing.
•           Melepaskan makhluk hidup itu merupakan suatu berkah yang besar karena kita telah memberi kesempatan hidup lebih lama kepada mereka.

FANG SEN
   Manusia menderita sakit, nasib buruk, semua bersumber dari karma penyembelihan, cara terbaik membayar karma ini adalah membebaskan makhluk hidup dari bahaya, kematian, dan penderitaan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan:
•           Jangan memesan hewan yang akan di Fangsen (dilepaskan) itu terlebih dahulu.
•           Jangan membiarkan hewan tersebut di dalam kandang/kardus/ember dan sebagainya terlalu lama karena upacara yang sangat panjang, sehingga dapat menambah penderitaan bagi mereka.

SUTRA YANG SERING DIGUNAKAN DALAM KEBAKTIAN MAHAYANA
•           Leng Yen Cou
•           Ta Pei Cou – Sincing
•           Sadharma Pundarika sutra (Ta Chen Miau Fa Lian Hua cing)
•           88 Fo (Puja 88 Buddha)
•           Amitabha Sutra (A Mi Tho Cing)
•           Bhaisajyaguru Vaidurya Prabhasa Sutra (Yau She Liu Li Kuang Ru Lai Pen Yen Kung Tek Cing).
•           Vajracchedika Prajna Paramita Sutra (Cing Kang Pan Yok Po Lo Mi Cing)
•           Ta-Pei-Chan
•           Fo Chien Takung/Sangkung (Puja setiap hari uposatha 1,15,8,23).
•           Puja Ksamayati Maha Karuna Avalokitesvara
•           Fo Suo Yi Lan Phen Ching
•           Ta Pei Sin Tuo Luo Ni Cing (Mahakaruna Dharani Sutra)
•           Ksitigarbha Sutra
•           Fo Suo Ta Shen Wu Liang Sou Cuang Yen Ching Cing Phing Ten Cie Cing
•           Fo Suo Kwuan Wu Liang Sou Fo Cing
•           Cung Feng San She Si Nien (ritual rangkaian 3 waktu melafal Amitabha Sutra)
•           Ta Fang Kuang Fo Hua Yen Cing Phu Sien Sing Yen Phin
•           Fo Suo Fu Mu Eeng Cung Nan Pao Cing
•           Ta Fang Pien Fo Pao Eng Cing
•           Fang Seng Yi Kui
•           Ta Fang Kuang Fo Hua Yancing (flower adornment sutra volume 1,2,3)
•           Miau Fa Lien Hua Cing (sutra bunga teratai)
•           Ta Fo Ting Sou Len Yen Cing (Surangama Sutra)

Manfaat Parinimana/Hui Siang
1.         Hui Siang mempunyai manfaat yang besar, orang yang melatih diri setiap selesai membaca sutra/paritta/gatha memuji nama agung para Buddha dan Bodhisattva dan mengantar makhluk ke suatu tempat yaitu Sukhavati.
2.         Dapat dilakukan tidak hanya pada waktu membaca paritta/sutra saja tetapi setiap kali melakukan perbuatan baik.

Pelita Puja (Tian Ten)
•           Memasang pelita adalah suatu bentuk persembahan  puja kepada Tathagata, Buddha dan para Bodhisattva Mahasattva menyatakan menghormati, bersyukur
       dan berterima kasih kepada Yang Dimuliakan.
•           Pelita melambangkan sinar welas asih para Buddha dan Bodhisattva, pelita mengorbankan dirinya untuk memberi penerangan dalam kegelapan.
•           Pelita melambangkan berkah dan penerangan .
•           Pelita melambangkan tidak ego dan pengorbanan
•           Pelita melambangkan kebijaksanaan dan kedamaian
•           Nyalakan pelita di altar Buddha.
•           Padamkan api yang berada di dalam hati
•           Menerangi Trisuhara Loka Dhatu/jagad raya.
•           Terang muncul di dalam kegelapan, semoga diriku juga diterangi.

Semboyan Agama Buddha Mahayana Indonesia
•           Maitri Karuna, landasan kebodhian
•           Sad paramita, pedoman penghayatan
•           Menolong 6 alam tumimbal lahir
•           Melaksanakan tekad Bodhisattva

Nian Fo
Mengapa kita harus belajar
Nian Fo?
1.         Secara jujur manusia tidak luput dari kesalahan dan prilaku dosa, sehingga banyak orang yang takut bertemu dengan Dewa Yama/Giam Lo Ong
2.         Manusia khawatir terjatuh ke 3 alam samsara (Neraka, setan kelaparan dan binatang)
3.         Maka umat mulai sadar dan mau melatih diri, tetapi hanya memilih cara mudah yaitu sekte tanah suci/Nian Fo.
Maksud dan Tujuan Nian Fo
•           Melakukan pertobatan, melenyapkan karma buruk
•           Melenyapkan khayalan dan kekacauan batin
•           Menentramkan jiwa dan raga
•           Membangkitkan keyakinan, tekad dan pelaksanaan
•           Untuk dilahirkan di surga Sukhavati
•           Mencapai Anuttara Samyaksambodhi.

Pengertian dan Praktek Yang Benar
3 Syarat utama untuk terlahir di tanah suci Sukhavati:
1.         Keyakinan yang dalam
2.         Sepenuh hati (pikiran tulus)
3.         Bangkitkan tekad dan pelimpahan jasa

Ada 3 (tiga) Pintu Dharma
        Badan jasmani
        Ucapan
        dan pikiran
Melalui pikiran, ucapan dan perbuatan kepada semua orang, dari pikiran yang saling tinggi hati, penuh sayang kita mengucapkan Amitofo.

•           Melafalkan nama Buddha/Nien Fo harus dimulai dari hati, suara pujian keluar dari mulut dan didengarkan kembali oleh telinga.
•           Demikianlah pikiran mengingat, mulut melafalkan. Telinga mendengarkan, semuanya harus jelas, jernih, tenang, dan berkesinambungan, lambat laun akan memenuhi relung hati dan menjadi sepenuh hati.

4 Metode Melakukan Pelafalan Nama Buddha:
•           Dengan konsentrasi ucapan dan pendengaran
•           Dengan memusatkan konsentrasi pada rupang
•           Dengan berkonsentrasi pada 16 kemuliaan surga Sukhavati.             
•           Melepaskan pikiran dualisme, membangkitkan jiwa Buddha untuk memahami
kesunyataan

Pedoman Untuk Praktik
•           Hati murni makhluk-makhluk menjadi suci
•           Hati murni bumi akan menjadi surga
•           Metode ajaran Buddha luas kebenarannya
•           Semua mengarah hanya mengajar kembalikan kemurnian.
•           Sila untuk memurnikan ucapan dan perbuatan
•           Samadhi untuk memurnikan pikiran yang diliputi ilusi dan hawa nafsu
•           Kebijaksanaan untuk memurnikan pandangan dan pengetahuan
•           Tujuan utama dari ketiga praktek adalah kemurnian
•           Keserakahan bila sudah murni bagaikan air samadhi (ketenangan)
•           Kebencian bila sudah murni bagaikan hembusan angin welas asih
•           Kebodohan bila sudah murni bagaikan pelita apinya prajna (kebijaksanaan)
•           Sesungguhnya kesejatian diri semua makhluk adalah murni.
•           Aktivitas sesaat tidak terbatas bila sudah murni
•           Jikalau semua praktik kemurnian sudah dilaksanakan maka dapat memurnikan hati, sikap dan prilaku.
•           Inilah yang disebut memperindah tanah suci para Buddha.

Tekad ke-18 Buddha Amitabha
Disaat aku akan menjadi Buddha, semua makhluk yang berada di sepuluh penjuru dunia, setelah mendengarkan nama-Ku, dengan sepenuh hati meyakininya, bertekad dengan setulus hati, melimpahkan semua akan karma baik agar dapat terlahir di negeri-Ku, bahkan hanya dengan sungguh-sungguh merenungkan dan menyebut nama-Ku sepuluh kali saja sewaktu akan meninggal, bila tidak dapat terlahir di negeri-Ku, maka aku tidak akan menjadi Buddha, kecuali ia telah melakukan Pancanantarya Karma (lima perbuatan durhaka), atau memfitnah Buddha Dharma.

Tekad ke 19 dan 20 Buddha Amitabha
Di saat aku akan menjadi Buddha, semua makhluk yang berada di sepuluh penjuru dunia, membangkitkan Bodhicitta setelah mendengar nama-Ku, meningkatkan semua kebajikan, menjalankan sad paramita dengan gigih tanpa mundur, ditambah lagi dengan penyaluran jasa semua akar karma baiknya, serta siang dan malam tiada putusnya bertekad dilahirkan di negeri-Ku, sewaktu akan meninggal, Aku bersama dengan para Bodhisattva akan datang menyambut di hadapannya, dalam waktu sekejap dapat terlahir di negeri-Ku menjadi Bodhisattva Avinivartaniya(batinnya tidak akan mundur lagi mencapai pencerahan tertinggi). Bila tidak akan terlahir di negeri-Ku, Aku tidak akan menjadi Buddha.

Peralatan yang digunakan pada saat pujabakti Mahayana

         Muk-Ie (Ikan Kayu)
            Fungsinya adalah sebagai pedoman pada saat membaca sutra, agar dilakukan dengan serempak. Melambangkan kesadaran/perhatian murni, bagaikan ikan yang tidur dengan mata yang terbuka. Berasal dari Tiongkok, kemudian ke Korea, Jepang, Taiwan dan Asia termasuk Indonesia
       In-Ching
            Fungsinya adalah untuk memberikan aba-aba pada saat namaskhara, pengiring pada saat lagu penyesalan, kemudian juga sebagai pengiring dalam pujian dan pembacaan mantra-mantra. Alat ini berasal dari Tiongkok. 
Ching/Gong
            Berbentuk seperti mangkuk terbuat dari logam, alat ini digunakan untuk menandai bagian-bagian penting dalam pujian-pujian/pembacaan paritta.
        He-Che
            Terdiri dari ukuran kecil, sedang dan besar. Bentuknya hampir menyerupai gembreng (Cymbal). Alat ini pakai sebagai pelengkap dalam menyanyikan lagu-lagu pujian. Alat musik ini telah lama di India demikian juga di Tiongkok.
        Ku (Tambur)
            Terdapat hampir di setiap negara
      (India, Tiongkok, Tibet dll) sebagai alat pengiring kebaktian, tanda mulai kebaktian dan lain-lain.

      Yau Ling (genta) atau Lonceng
            Alat ini digunakan pada saat kebaktian. Biasanya digunakan bersama vajra. Genta melambangkan suara, kata-kata yang penuh dengan daya cipta, getaran yang dimunculkan dari pengulangan mantra. Dimaksudkan juga untuk melambangkan batin menuju pencerahan.

Ada 7 jenis genta yang dapat ditemukan:
            Genta yang memiliki kepala vajra 1 titik, 3 titik, 4 titik, 5 titik, 9 titik yang bergagang Triratna dan yang bergagang melambangkan stupa. Digunakan oleh sekte utara (mahayana dan tantrayana)

      Cing Kang Chu (Vajra)
            Alat ini telah ada sebelum munculnya agama Buddha. Digunakan sebagian besar Buddhisme Tantrayana dan sekte eksoterik di Jepang dan Tiongkok. Selain itu juga digunakan ritual veda (hindu) untuk mengusir kekuatan-kekuatan jahat yang mendekati persembahan.

        Benda ini melambangkan kebijaksanaan yang mengalahkan kebodohan, semangat yang mengalahkan nafsu pengetahuan bagaikan teratai digunakan untuk melenyapkan rintangan-rintangan spiritual dan merupakan senjata yang efektif untuk melawan nafsu dan pikiran-pikiran jahat.

        Tasbih (Nianzhu)
Terbuat dari kayu pilihan, batu dll. Alat ini berfungsi untuk membantu pengulangan mantra/sutra-sutra suci pendek. Contoh: Nian Fo, dll. Biasanya tasbih berjumlah 108 butir karena memiliki arti memutuskan 108 jenis kegelisahan batin.

        Tan Che
Sebagai alat musik tambahan dalam mengiringi pujian-pujian.


SERBA-SERBI
1.         Mudra yaitu: gerak isyarat tangan dengan memakai simbol gaib yang menunjukkan berbagai gagasan pikiran.
2.         Vairocana yaitu: pimpinan dari kelima Dhyani Buddha yang menempati posisi di tengah, juga merupakan kebijaksanaan tertinggi.
3.         Gatha adalah:
4.         Rangkaian kata-kata Buddha dalam syair
5.         Serangkaian cerita atau lagu pujian yang berisikan nasihat-nasihat baik
6.         Bait atau lagu yang diciptakan oleh pikiran dalam kondisi penghayatan batin.        
7.         Vandana adalah: penghormatan
8.         Mantra adalah:kata-kata/kalimat yang sakral dan mempunyai kekuatan gaib.

AKHIR KATA:
o          Semoga kita semua dapat bertekad untuk mempelajari pintu Dharma yang tiada batasnya.
o          Bertekad untuk mempelajari jalan utama dari Buddha dan para Bodhisattva.
o          Bertekad menolong semua makhluk yang membutuhkan.
o          Semoga kita dari hari ke hari dapat merasakan kemajuan Praktek Buddha Dharma, dapat memberikan manfaat kepada diri sendiri dan orang banyak.

o          Semoga jasa kebajikan yang telah kita lakukan hari ini dapat memperindah tanah suci para Buddha, membelas empat budi besar, menolong makhluk di tiga alam samsara.
o          Semoga semua yang mendengarkan Dharma ini dapat membangkitkan kebodhian, sampai di akhir kehidupan ini, bersama-sama lahir di alam bahagia.


Minggu, 08 Juli 2012

EVALUASI PROGRAM PEMBELAJARAN



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Rasional
 Agenda pembangunan pendidikan suatu bangsa tidak akan pernah berhenti dan selesai. Ibarat patah tumbuh hilang berganti, selesai memecahkan suatu masalah, muncul masalah lain yang kadang tidak kalah rumitnya. Begitu pula hasil dari sebuah strategi pemecahan masalah pendidikan yang ada, tidak jarang justru mengundang masalah baru yang jauh lebih rumit dari masalah awal. Itulah sebabnya pembangunan bidang pendidikan tidak akan pernah ada batasnya. Selama manusia ada, persoalan pendidikan tidak akan pernah hilang dari wacana suatu bangsa. Oleh karena itu, agenda pembangunan sektor pendidikan selalu ada dan berkembang sesuai dengan dinamika kehidupan masyarakat suatu bangsa.
Evaluasi merupakan subsistem yang sangat penting dan sangat di butuhkan dalam setiap sistem pendidikan, karena evaluasi dapat mencerminkan  seberapa jauh perkembangan atau kemajuan hasil pendidikan. Dengan evaluasi, maka maju dan mundurnya kualitas pendidikan dapat diketahui, dan dengan evaluasi pula, kita dapat mengetahui titik kelemahan serta mudah mencari jalan keluar  untuk berubah menjadi lebih baik ke depan.
Tanpa evaluasi, kita tidak bisa mengetahui seberapa jauh keberhasilan siswa, dan tanpa evaluasi pula kita tidak akan ada perubahan menjadi lebih baik. Jadi secara umum evaluasi adalah suatu proses sistemik umtuk mengetahui tingkat keberhasilan suatu program.
Evaluasi pendidikan dan pengajaran adalah proses kegiatan untuk mendapatkan informasi data mengenai hasil belajar mengajar yang dialami siswa dan mengolah atau menafsirkannya menjadi nilai berupa data kualitatif atau kuantitatif sesuai dengan standar tertentu. Hasilnya diperlukan untuk membuat berbagai putusan dalam bidang pendidikan dan pengajaran.
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 pasal 11 ayat 1 mengamanatkan kepada pemerintah dan pemerintah daerah untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu (berkualitas) bagi setiap warga negara. Terwujudnya pendidikan yang bermutu membutuhkan upaya yang terus menerus untuk selalu meningkatkan kualitas pendidikan. Upaya peningkatan kualitas pendidikan memerlukan upaya peningkatan kualitas pembelajaran (instructional quality) karena muara dari berbagai program pendidikan adalah pada terlaksananya program pembelajaran yang berkualitas. Oleh karena itu, usaha meningkatkan kualitas pendidikan tidak akan tercapai tanpa adanya peningkatan kualitas pembelajaran.
Peningkatan kualitas pembelajaran memerlukan upaya peningkatan kualitas program pembelajaran secara keseluruhan karena hakikat kualitas pembelajaran adalah merupakan kualitas implementasi dari program pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya. Upaya peningkatan kualitas program pembelajaran memerlukan informasi hasil evaluasi terhadap kualitas program pembelajaran sebelumnya. Dengan demikian, untuk dapat melakukan pembaharuan program pendidikan, termasuk di dalamnya adalah program pembelajaran kegiatan evaluasi terhadap program yang sedang maupun telah berjalan sebelumnya perlu dilakukan dengan baik. Untuk dapat menyusun program yang lebih baik,  hasil evaluasi program sebelumnya merupakan acuan yang tidak dapat ditinggalkan.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Mengingat begitu luasnya pembahasan evaluasi sistem pendidikan, pada makalah ini kami membatasi masalah pada pembahasan evaluasi program pembelajaran di sekolah sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari evalusi pendidikan secara menyeluruh. Adapun masalah yang penulis ajukan adalah : 
1.   Bagaimana proses evaluasi program pembelajaran di sekolah ? 
2.  Siapakah yang layak menjadi evaluator program pembelajaran di sekolah ?
C. Tujuan Pembahasan
Tujuan yang ingin dicapai dalam pembahasan ini adalah : 
1. Untuk memperoleh gambaran teoritis tentang proses evaluasi program pembelajaran di sekolah 
2.Untuk memperoleh gambaran teoritis tentang orang yang layak menjadi evaluator program pembelajaran sekolah.
D. Metoda Pendekatan
Dalam membahas makalah ini, penulis akan menggunakan metode, yaitu studi literatur, yaitu penggunaan bahan-bahan penulisan yang bersumber dari buku-buku referensi dan website.
BAB II
                               TINJAUAN TEORITIS              
                   
A.  Konsep Dasar  Evaluasi Pendidikan
Sebagaimana dikemukakan oleh Edwint Wandt dan Gerald W, Brown (1997) bahwa evaluasi itu menunjuk kepada atau mengandung pengertian   “  suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu “.
Apabila definisi evaluasi yang dikemukakan Edwint Wandt dan Gerald W, Brown untuk memberikan  definisi tentang eveluasi pendidikan, maka evaluasi pendidikan itu dapat diberi pengertian sebagai suatu tindakan atau kegitan (yang dilaksanakan dengan maksud  untuk) atau suatu proses yang berlangsung dalam rangka menentukan nilai dari segala sesuatu dalam dunia pendidikan. Secara singkat Evaluasi Pendidikan adalah kegiatan atau proses penentuan nilai pendidikan, sehingga dapat diketahui mutu atau hasil-hasilnya.
Berbicara tentang pengertian evaluasi pendidikan di Indonesia, lembaga Administrasi Negara mengemukakan batasan mengenai evaluasi pendidikan sebagai berikut :
Evaluasi pendidikan adalah :
1)       Proses/kegiatan untuk menentukan kemajuan pendidikan, dibandingkan dengan tujuan yang telah ditentukan
2)       Usaha untuk memperoleh informasi berupa umpan balik (feed back) bagi penyempurnaan pendidikan
Bertitik tolak dari uraian di atas, maka apabila definisi tentang evalusi pendidikan itu dituangkan dalam bentuk bagan akan terlihat seperti di bawah ini.
Hasil-hasil Pendidikan yang telah dapat dicapai

Tujuan  Pendidikan yang telah ditentukan
BAGAN TENTANG EVALUASI PENDIDIKAN
Proses/Kegiatan Pencapaian Tujuan
Pembandingan antara Tujuan dengan Hasil yang telah dicapai
Informasi {Sesuai/tidak sesuai, Berhasil/Gagal Bermutu/Kurang Bermutu ? Mengapa, Bagaimana ?)
Feed Back/Umpan Balik Upaya perbaikan/Penyempurnaan Program Pendidikan
Bagan tersebut memperlihatkan , bahwa dalam proses penilaian, dilakukan pembandingan antara informasi-informasi yang telah berhasil dihimpun dengan kriteria tertentu, untuk kemudian diambil keputusan atau dirumuskan kebijakan tertentu. Kriteria atau tolok ukur yang dipegang adalah tujuan yang sudah ditentukan terlebih dahulu sebelum kegiatan pendidikan itu dilaksanakan.
Evaluasi berkaitan erat dengan pengukuran dan penilaian yang pada umumnya diartikan tidak berbeda (indifferent), walaupun pada hakekatnya berbeda satu dengan yang lain. Pengukuran (measurement) adalah proses membandingkan sesuatu melalui suatu kriteria baku (meter, kilogram, takaran dan sebagainya), pengukuran bersifat kuantitatif. Penilaian adalah suatu proses transformasi dari hasil pengukuran menjadi suatu nilai. Evaluasi
meliputi kedua langkah di atas yakni mengukur dan menilai yang digunakan dalam rangka pengambilan keputusan.
Evaluasi pendidikan memberikan manfaat baik bagi siswa/peserta pendidikan, pengajar maupun manajemen. Dengan adanya evaluasi, peserta didik dapat mengetahui sejauh mana keberhasilan yang telah digapai selama mengikuti pendidikan. Pada kondisi dimana siswa mendapatkan nilai yang memuaskan maka akan memberikan dampak berupa suatu stimulus, motivator agar siswa dapat lebih meningkatkan prestasi. Pada kondisi dimana hasil yang dicapai tidlak mernuaskan maka siswa akan berusaha memperbaiki kegiatan belajar, namun demikian sangat diperlukan pemberian stimulus positif dari guru/pengajar agar siswa tidak putus asa. Dari sisi pendidik, hasil evaluasi dapat digunakan sebagai umpan balik untuk menetapkan upaya upaya meningkatkan kualitas pendidikan.
B. FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN
1.  Fungsi Secara Umum
Secara umum, evaluasi sebagai suatu tindakan atau proses memiliki 3 macam fungsi pokok, yaitu  (1) mengukur kemajuan, (2) menunjang penyusunan rencana, (3) memperbaiki atau melakukan penyempurnaan kembali. Setidak-tidaknya ada dua macam kemungkinan hasil yang diperoleh dari kegiatan evaluasi, yaitu :
1)Hasil evaluasi itu ternyata menggembirakan, sehingga dapat memberikan rasa lega bagi evaluator, sebab tujuan yang telah ditentukan dapat dicapai sesuai dengan yang direncanakan
2)Hasil evaluasi itu ternyata tidak menggembirakan atau bahkan mengkhawatirkan, dengan alasan bahwa berdasar hasil evaluasi ternyata dijumpai adanya penyimpangan-penyimpangan, hambatan atau kendala , sehingga mengharuskan evaluator untuk  bersikap waspada. Ia perlu memikirkan dan melakukan pengkajian  ulang terhadap rencana yang telah disusun, atau mengubah dan memperbaiki cara pelaksanaannya. Berdasar data hasil evaluasi itu selanjutnya dicari metode-metode lain yang dipandang lebih tepat dan lebih sesuai dengan keadaan dan kebutuhan. Sudag barang tentu perubahan-perubahan itu membawa konsekuensi berupa perencanaan ulang ( re-pl;anning) atau perencanaan baru, Dengan demikian dapat dikatakan bahwa evaluasi itu memiliki fungsi; menunjang penyusunan rencanal.
Evaluasi yang dilaksanakan secara berkesinambungan akan membuka peluang bagi evaluator untuk membuat perkiraan (estimasi), apakah tujuan yang telah dirumuskan akan dapat dicapai pada waktu yang telah ditentukan, ataukah tidak, Apabila berdasar data hasil evaluasi itu diperkirakan bahwa tujuan tidak akan dapat dicapai sesuai dengan rencana, maka evaluator akan berusaha untuk mencari dan menemukan factor-faktor penyebabnya, serta mencari dan menemukan jalan keluar atau cara-cara pemecahannya. Bukan tidak mungkin bahwa atas dasar data hasil evaluasi itu evaluator perlu mengadakan perubahan-perubahan, penyempurnaan-penyempurnaan atau perbaikan-perbaikan, baik perbaikan yang menyangkut organisasi, tata kerja, dan bahkan mungkin juga perbaikan terhadap tujuan organisasi itu sendiri. Jadi kegiatan evaluasi pada dasarnya juga dimaksudkan untuk melakukan perbaikan atau penyempurnaan usaha. Perbaikan usaha tanpa didahului oleh kegiatan evaluasi adalah tidak mungkin; sebab untuk mengadakan perbaikan terlebih dahulu harus diketahui apa yang harus diperbaiki, dan mengapa hal itu perlu diperbaiki. Kegiatan evaluasi yang tidak menghasilkan titik tolak untuk perbaikan adalah  hampa dan tidak ada artinya sama sekali.
2.  Fungsi Secara Khusus.
Secara khusus fungsi evaluasi dalam dunia pendidikan dapat ditilik dari 3 segi, yaitu : (1) segi psikologis, (2) segi didaktik, dan (3) segi administratif.
Secara psikologis kegiatan evaluasi dalam bidang pendidikan di sekolah dapat disorot dari dua sisi, yaitu dari sisi peserta didik dan dari sisi pendidik.
Bagi peserta didik evaluasi pendidikan secara psikologis akan memberikan pedoman atau pegangan batin kepada mereka untuk mengenal kepastian dan status dirinya masing-nasing di tengah-tengah kelompok atau kelasnya. Dengan dilakukannya evaluasi terhadap hasil belajar siswa misalnya, maka para siswa akan mengetahui apakah dirinya termasuk siswa yang berkemampuan tinggi, berkemampuan rata-rata, ataukah berkemampuan rendah, juga para siswa yang bersangkutan akan menjadi tahu atau mengerti di manakah posisi dirinya ditengah teman-temannya. Apakah ia termasuk kelompok pandai, sedang ataukah termasuk dalam kelompok bodoh.
Bagi pendidik, evaluasi pendidikan akan emberikan kepastian atau ketetapan hati kepada diri pendidik tersebut, sudah sejauh manakah kiranya usaha yang telah dilakukannya selama ini telah membawa hasil, sehingga ia secara psikologis memiliki pedoman atau pegangan batin yang pasti guna menentukan langkah-langkah apa saja yang dipandang perlu, dilakukan selanjutnya.  Misalnya dengan menggunakan metode-metode mengajar tertentu, hasil-hasil belajar siswa menunjukkan adanya peningkatan daya serap terhadap materi yang telah diberikan kepada para siswa tersebut, karena itu penggunaan metode-metode mengajar tadi akan terus dipertahankan.Sebaliknya, apabila hasil-hasil belajar siswa ternyata tiak menggembirakan, maka pendidik akan berusaha melakukan perbaikan-perbaikan  dan penyempurnaan sehingga hasil belajar siswa menjadi lebih baik.
Bagi peserta didik, secara didaktik evaluasi pendidikan (khususnya evaluasi hasil belajar) akan dapat memberikan dorongan kepada mereka untuk dapat memperbaiki meningkatkan dan mempertahankan prestasinya. Evaluasi hasil belajar itu misalnya akan menghasilkan nilai-nilai hasi belajar untuk masing-masing individu siswa. Ada siswa yang nilainya jelek, karena itu siswa tersebut terdorong untuk memperbaikinya, agar untuk waktu-waktu yang akan datang nilai hasil belajarnya tidak sejelek sekarang, sementara itu untuk siswa yang sudah baik prestasinya akan termotivasi untuk selalu mempertahankan prestasinya.
Bagi pendidik secara didaktik evaluasi pendidikan itu setidak-tidaknya memiliki lima macam fungsi, yaitu ;
1.   Memberikan landasan untuk menilai hasil usaha/prestasi yang telah dic apaiu oleh peserta didiknya.
Disini evaluasi dikatakan berfungsi memeriksa (mendiagnosa), yaitu memeriksa pada bagian-bagian manakah para peserta didik pada umumnya mengalami kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran, untuk selanjutnya dapat dicari dan ditemukan jalan eluar pemecahannya. Jadi disini evaluasi berfungsi diagnostic.
2.Memberikan  informasi yang sangat berguna, guna mengetahui posisi masing-masing peserta didik di tengah-tengah kelompoknya.
Dalam hubungan ini evaluasi pendidikan sangat diperlukan untuk dapatmenentukan secara pasti, pada kelompok manakah kiranya seorang peserta didik seharusnya ditempatkan. Dengan kata evaluasi evaluasi pendidikan berfungsi menempatkan peserta didik menurut kelompoknya masing-masing; misalnya kelompok atas (pandai), tengah (rata-rata) tau kelompok rendah (lemah).
3. Memberikan bahan yang penting untuk memilih dan kemudian menetapkan status peserta didik.
Dalam hubungan ini evaluasi pendidikan dlakukan untuk menetapkan, apakah seorang peserta didik dapat dinyatakan lulus atau  tidak lulus, dapat dinyatakan naik kelas ataukah tinggal kelas, dapat diterima pada jurusan tertentu atau tidak
4.Memberikan pedoman untuk mencari dan menemukan jalan keluar bagi peserta didik yang memang memerlukannya.
Berdasarkan pada hasil evaluasi, pendidik dimungkinkan untuk dapat memberikan petunjuk dan bimbingan kepada para peserta didik; misalnya tentang bagaimana cara belajar yang baik, cara mengatur waktu belajar dan sebagainya, sehngga kesulitan-kesulitan yang dihadap peserta didik dalam PBM dapat diatasi sebaik-baiknya. Jadi evaluasi pendidikan berfungsi bimbingan.
5.Memberikan petunjuk tentang sudah sejauh manakah program pengajaran yang telah ditentukan telah dapat dicapai.
Disini evaluasi pendidikan dikatakan memlilki fungsi instruksional, yaitu melakukan pembandingan antara Kompetensi Dasar (KD) yang telah ditentukan untuk masing-masing mata pelajaran dengan hasil-hasil belajar yang telah dicapau oleh pesrta didik.
Adapun secara administratif, evaluasi pendidikan itu setidak-tidaknya memiliki tiga macam fungsi, yaitu ;
6.Memberikan Laporan
Dengan melakukan evaluasi, akan dapat disusun dan disajikan laporan mengenai kemajuan dan perkembangan peserta didik setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. Laporan mengenai hal ini biasanya tertuang dalam bentuk Buku Laporan Kemajuan Belajar Siswa (Rapor).
7.Memberikan Bahan-bahan Keterangan (Data)
Setiap keputusan pendidikan harus didasarkan kepada data yang lengkap dan akurat. Dalam hubungan ini, nilai-nilai hasil belajar peserta didik yang diperoleh dari kegiatan evaluasi, adalah merupakan data yang sangat penting untuk keperluan pengambilan keputusan pendidikan dan lembaga pendidikan. Apakah peserta didik dapat dinyatakan lulus atau tidak lulus, naik kelas atau tidak, dan sebagainya
8. Memberikan Gambaran
Gambaran mengenai hasil-hasil yang telah dicapai dalam proses pembelajaran tercermin  antara lain dari hasil-hasil belajar para peserta didik setelah dilakukannya evaluasi hasil belajar. Dari kegiatan evaluasi hasil belajar yang telah dilakukan untuk berbagai jenis mata-mata pelajaran tertentu (misalnya Matematika dan IPA) pada umumnya kemampuan siswa sangat memprihatinkan. Gambaran tentang kualitas hasil belajar peserta didik juga dapat diperoleh berdasar data yang berupa Nilai Ujian Nasional (NUN), Nilai Ulangan Umum dan lain-lain.
C.  Tujuan Evaluasi Pendidikan
 1. Tujuan Umum
Secara umum, tujuan evaluasi dalam bidang pendidikan ada dua, yaitu :
1.Untuk menghimpun bahan-bahan keterengan yang akan dijadikan sebagai bukti mengenai taraf perkembangan peserta didik, setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. Dengan kata lain, tujuan umum dari evaluasi dalam pendidkan adalah untuk memperoleh data pembuktian , yang akan menjadi petunjuk sampai dimana tingkat kemampuan dan tingkat keberhasilan peserta didik dalam pencapaian tujuan-tujuan kurikuler, setelah mereka menempuh pembelajaran dalam jangka waktu yang ditentukan.
2.untuk mengetahui tingkat efektivitas dari metode-metode pengajaran yang telah di[ergunakan dalam prosese pembelajarn dalam jangka waktu tertentu. Jadi tujuan umu yang kedua dari evaluasi pendidikan adalah untuk mengukur dan menilai sampai dimanakah efektivitas mengajar dan metode-metode mengajara yang telah diterapkan atau dilaksanakan oleh pendidik serta kegiatan yang dilaksanakan oleh peserta didik.
2. Tujuan Khusus
Adapun yang menjadi tujuan khusus dalam pendidikan adalah:
1. untuk merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program pendidikan. Tanpa adanya evaluasi maka tidak mungkin timbul kegairahan atau rangsangan pada diri peserta didik untuk memperbaiki dan meningkatkan prestasinya masing-masing.
2. untuk mencari dan menemukan faktror-faktor penyebab keberhasihan dan ketidakberhasilan peserta didik dalam mengikuti program pendidikan. Sehingga dapat dicari dan ditemukan jalan keluar atau cara-cara perbaikannya.
D. Kegunaan Evaluasi Pendidikan
Diantara kegunaan yang dapat dipetik dalam bidang pendidikan adalah:
1.terbukanya kemungkinan bagi evaluator guna memperoleh evaluasi tentang hasil-hasil yang telah dicapai dalam rangka pelaksanaan program pendidikan.
2.terbukanya kemungkinan untuk dapat diketahuinya relevansi antara program pendidikan yang telah dirumuskan dengan tujuan pendidikan yang hendak dicapai.
3.terbukanya kemungkinan untuk dalap dilakukannya usaha perbaikan, penyesuaian dan penyempurnaan program pendidikan yang dipandang lebih berdaya guna dan berhasil guna sehingga tujuan yang dicita-citakan akan dapat dicapai dengan hasil yang sebaik-baiknya.
E.  Proses Evaluasi Pendidikan
Dalam melaksanakan evaluasi pendidikan hendaknya dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa evaluasi pendidikan secara garis besar melibatkan 3 unsur yaitu input, proses dan out put. Apabila proAsesdur yang dilakukan tidak bercermin pada 3 unsur tersebut maka dikhawatirkan hasil yang digambarkan oleh hasil evaluasi tidak mampu menggambarkan gambaran yang sesungguhnya terjadi dalam proses pembelajaran. Langkah-langkah dalam melaksanakan kegiatan evaluasi pendidikan secara umum adalah sebagai berikut :
1.perencanaan (mengapa perlu evaluasi, apa saja yang hendak dievaluasi, tujuan    evaluasi, teknikapa yang hendak dipakai, siapa yang hendak dievaluasi, kapan, dimana, penyusunan instrument, indikator, data apa saja yang hendak digali, dsb)
2. pengumpulan data ( tes, observasi, kuesioner, dan sebagainya sesuai dengan tujuan).
3. verifiksi data (uji instrument, uji validitas, uji reliabilitas, dsb).
4. pengolahan data ( memaknai data yang terkumpul, kualitatif atau kuantitatif, apakah hendak di olah dengan statistikatau non statistik, apakah dengan parametrik atau non parametrik, apakah dengan manual atau dengan software (misal : SAS, SPSS )
5.  penafsiran data, ( ditafsirkan melalui berbagai teknik uji, diakhiri dengan uji hipotesis ditolak atau diterima, jika ditolak mengapa? Jika diterima mengapa? Berapa taraf signifikannya?) interpretasikan data tersebut secara berkesinambungan dengan tujuan evaluasi sehingga akan tampak hubungan sebab akibat. Apabila hubungan sebab akibat tersebut muncul maka akan lahir alternatif yang ditimbulkan oleh evaluasi itu.
                                                           BAB III                                                            
PEMBAHASAN
A. Pengertian Evaluasi
Ada tiga istilah yang sering digunakan dalam evaluasi, yaitu tes, pengukuran, dan penilaian. (test, measurement,and assessment). Tes merupakan salah satu cara untuk menaksir besarnya kemampuan seseorang secara tidak langsung, yaitu melalui respons seseorang terhadap stimulus atau pertanyaan (Djemari Mardapi, 2008: 67). Tes merupakan salah satu alat untuk melakukan pengukuran, yaitu alat untuk mengumpulkan informasi karakteristik suatu objek. Objek ini bisa berupa kemampuan peserta did, sikap, minat, maupun motivasi. Respons peserta tes terhadap sejumlah pertanyaan menggambarkan kemampuan dalam bidang tertentu. Tes merupakan bagian tersempit dari evaluasi.
Pengukuran (measurement) dapat didefinisikan sebagai the process by which information about the attributes or characteristics of thing are determinied and differentiated (Oriondo, 1998: 2). Guilford mendefinisi pengukuran dengan “assigning numbers to, or quantifying, things according to a set of rules” (Griffin & Nix, 1991: 3). Pengukuran dinyatakan sebagai proses penetapan angka terhadap individu atau karakteristiknya menurut aturan tertentu (Ebel & Frisbie. 1986: 14). Allen & Yen mendefinisikan pengukuran sebagai penetapan angka dengan cara yang sistematik untuk menyatakan keadaan individu (Djemari Mardapi, 2000: 1). Dengan demikian, esensi dari pengukuran adalah kuantifikasi atau penetapan angka tentang karakteristik atau keadaan individu menurut aturan-aturan tertentu.  Keadaan individu ini bisa berupa kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor. Pengukuran memiliki konsep yang lebih luas dari pada tes. Kita dapat mengukur karakateristik suatu objek tanpa menggunakan tes, misalnya dengan pengamatan, skala rating atau cara lain untuk memperoleh informasi dalam bentukkuantitatif.
Penilaian (assessment) memiliki makna yang berbeda dengan evaluasi. Popham (1995: 3) mendefinisikan asesmen dalam konteks pendidikan sebagai sebuah usaha secara formal untuk menentukan status siswa berkenaan dengan berbagai kepentingan pendidikan. Boyer & Ewel mendefinisikan asesmen sebagai proses yang menyediakan informasi tentang individu siswa, tentang kurikulum atau program, tentang institusi atau segala sesuatu yang berkaitan dengan sistem institusi. “processes that provide information about individual students, about curricula or programs, about institutions, or about entire systems of institutions” (Stark & Thomas,1994: 46). Berdasarkan berbagai uraian di atas dapat disimpulkan bahwa assessment atau penilaian dapat diartikan sebagai kegiatan menafsirkan data hasil pengukuran.
Evaluasi memiliki makna yang berbeda dengan penilaian, pengukuran maupun tes. Stufflebeam dan Shinkfield (1985: 159) menyatakan bahwa : Evaluation is the process of delineating, obtaining, and providing descriptive and judgmental information about the worth and merit of some object’s goals, design, implementation, and impact in order to guide decision making, serve needs for accountability, and promote understanding of the involved phenomena.
Evaluasi merupakan suatu proses menyediakan informasi yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk menentukan harga dan jasa (the worth and merit) dari tujuan yang dicapai, desain, implementasi dan dampak untuk membantu membuat keputusan, membantu pertanggung jawaban dan meningkatkan pemahaman terhadap fenomena. Menurut rumusan tersebut,  inti dari evaluasi adalah penyediaan informasi yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan.
Komite Studi Nasional tentang Evaluasi (National Study Committee on Evaluation) dari UCLA (Stark & Thomas, 1994: 12), menyatakan bahwa : Evaluation is the process of ascertaining the decision of concern, selecting  appropriate information, and collecting and analyzing information in order to report summary data useful to decision makers in selecting amongalternatives.
Evaluasi merupakan suatu proses atau kegiatan pemilihan, pengumpulan, analisis dan penyajian informasi yang sesuai untuk mengetahui sejauh mana suatu tujuan program, prosedur, produk atau strategi yang dijalankan telah tercapai, sehingga bermanfaat bagi pengambilan keputusan serta dapat menentukan beberapa alternatif keputusan untuk program selanjutnya.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi merupakan proses yang sistematis dan berkelanjutan untuk mengumpulkan, mendeskripsikan, mengintepretasikan dan menyajikan informasi untuk dapat digunakan sebagai dasar membuat keputusan dan atau menyusun kebijakan. Adapun tujuan evaluasi adalah untuk memperoleh informasi yang akurat dan objektif tentang suatu program. Informasi tersebut dapat berupa proses pelaksanaan program, dampak/hasil yang dicapai, efisiensi serta pemanfaatan hasil evaluasi yang difokuskan untuk program itu sendiri, yaitu untuk mengambil keputusan apakah dilanjutkan, diperbaiki atau dihentikan. Selain itu, juga dipergunakan untuk kepentingan penyusunan program berikutnya maupun penyusunan kebijakan yang terkait dengan program.
B. Program Pembelajaran                              
Menurut Suharsimi Arikunto dan Cepi Safrudin (2008: 3 – 4) ada dua pengertian untuk istilah “program”, yaitu pengertian secara khusus dan umum. Menurut pengertian secara umum, “program” dapat diartikan sebagai “rencana”. Jika seorang siswa ditanya oleh guru, apa programnya setelah lulus dalam menyelesaikan pendidikan di sekolah yang diikuti, maka arti “program” dalam kalimat tersebut adalah rencana atau rancangan kegiatan yang akan dilakukan setelah lulus. Rencana ini mungkin berupa keinginan untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi, mencari pekerjaan, membantu orang tua dalam membina usaha, atau mungkin juga belum menenukan program apapun. Apabila program ini langsung dikaitkan dengan evaluasi progam, maka program didefinisikan sebagai satu  unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan realisasi atau implementasi dari suatu kebijakan, berlangsung dalam program yang berkesinambungan, dan terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan sekelompok orang.
Dalam buku yang lain Suharsimi (2008: 291) mendefinisikan program sebagai suatu kegiatan yang direncanakan dengan seksama. Sedangkan Farida Yusuf Tayibnabis (2000: 9) mengartikan program sebagai segala sesuatu yang dicoba lakukan seseorang dengan harapan akan mendatangkan hasil atau pengaruh. Dengan demikian dapat  diartikan program sebagai serangkain kegiatan yang direncanakan dengan seksama dan dalam pelaksanaannya berlangsung dalam proses yang berkesinambungan, dan terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan banyak orang. Dalam pengertian tersebut ada empat unsur pokok untuk dapat dikategorikan sebagai program, yaitu:
1.Kegiatan yang direncanakan atau dirancang dengan seksama. Bukan asal rancangan, tetapi rancangan kegiatan yang disusun dengan pemikiran yang cerdas dan cermat,
2.Kegiatan tersebut berlangsung secara berkelanjutan dari satu kegiatan ke kegiatan yang lain. Dengan kata lain ada  keterkaitan antar kegiatan sebelum dengan kegiatan sesudahnya,
3. Kegiatan tersebut berlangsung dalam sebuah organisasi, baik organisasi formal maupun organisasi non formal bukan kegiatan individual,
4. Kegiatan tersebut dalam implementasi atau pelaksanaanya melibatkan banyak orang, bukan kegiatan yang dilakukan oleh perorangan tanpa ada kaitannya dengan kegiatan orang lain.
Pembelajaran merupakan salah satu bentuk program, karena pembelajaran yang baik memerlukan perencanaan yang matang dan dalam pelaksanaanya melibatkan berbagai orang, baik guru maupun siswa, memiliki keterkaitan antara kegiatan pembelajaran yang satu dengan kegiatan pembelajaran yang lain, yaitu untuk mencapai kompetensi bidang studi yang pada akhirnya untuk mendukung pencapaian kompetensi lulusan, serta berlangsung dalam organisasi. Agar pembelajaran bisa berjalan dengan efektif dan efisien, maka perlu kiranya dibuat suatu program pembelajaran. Program pembelajaran yang biasa disebut juga dengan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) merupakan panduan bagi guru atau pengajar dalam melaksanakan pembelajaran. Program pembelajaran yang dibuat oleh guru tidak selamanya bisa efektif dan dapat dilaksanakan dengan baik, oleh karena itulah agar program pembelajaran yang telah dibuat yang memiliki kelemahan tidak terjadi lagi pada program pembelajaran berikutnya, maka perlu diadakan evaluasi program pembelajaran.
C. Kegunaan Evaluasi Program Pembelajaran
Sekurang-kurangnya ada empat kegunaan utama evaluasi program pembelajaran, yaitu :
1. Mengomunikasikan program kepada publik
Tidak jarang publik termasuk orang tua siswa mendapat laporan bersifat garis besar dari media massa tentang efektivitas program sekolah termasuk program pembelajaran. Laporan demikian biasanya hanya menyajikan angka-angka statistik tanpa disertai penjelasan secara detail tentang makna dan hal-hal yang tekait. Ada pula sebagian orang tua menerima laporan tentang program pembelajaran dari siswanya. Informasi demikian bagaimanapun kurang lengkap. Padahal laporan atau informasi demikian dapat saja membentuk opini sistem pembelajaran atau bahkan kinerja guru. Oleh karena itu mengkomunikasikan hasil evaluasi program pembelajaran yang lengkap akan memiliki keuntungan dan kebaikan bagi guru dan sekolah. Bagaimanapun orang tua maupun masyarakat luas lainnya memiliki kepentingan terhadap pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu sekolah memiliki kewajiban untuk mengomunikasikan efektivitas program pembelajarannya kepada orang tua maupun publik lainnya melalui hasil-hasil evaluasi yag dilaksanakan, dengan demikian publik dapat menilai tentang efektivitas program pembelajaran dan memberikan dukungan yang diperlukan.
2. Menyediakan informasi bagi pembuat keputusan
Informasi yang dihasilkan dari evaluasi program pembelajaran akan berguna bagi setiap tahapan dari manajemen sekolah mulai sejak perencanaan, pelaksanaan ataupun ketika akan mengulangi dan melanjutkan program pembelajaran. Hasil evaluasi dapat dijadikan dasar bagi pembuatan keputusan, sehigga keputusan tersebut lebih valid dibandingkan keputusan yang hanya berdasarkan intuisi saja. Pembuat keputusan biasanya memerlukan informasi yang akurat agar dapat memutuskan sesuatu secara tepat. Informasi yang akurat tersebut antara lain dapat diperoleh dari kegiatan evaluasi yang dilaksanakan secara sistematis. Penyediaan informasi hasil evaluasi bagi pembuatan keputusan tersebut tidak terbatas pada keputusan oleh kepala sekolah tetapi juga oleh guru. Misalnya guru membuat keputusan tingkat kelas, sedangkan kepala sekolah membuat keputusan untuk tingkat sekolah. Masing-masing pembuat keputusan memerlukan informasi dari hasil evaluasi,karenanya hal ini harus diperhatikan ketika rencana evaluasi dikembangkan.
3. Penyempurnaan program yang ada          
Evaluasi program pembelajaran yang dilaksanakan dengan baik dapat membantu upaya-upaya dalam rangka menyepurnakan jalannya program pembelajaran sehingga lebih efektif. Dengan instrumen yang ada, hasil yang dicapai dapat diukur dan didiagnosis. Berbagai kelemahan dan kendala yang mungkin timbul dapat ditemukan dan dikenali, kemudian dianalisis serta ditentukan alternatif pemecahannya yang paling tepat. Komponen-komponen dalam sistem pembelajaran yang memiliki kekurangan dan kelemahan dapat dipelajari dan dicari solusinya. Berdasarkan hasil evaluasi akan dapat diperoleh informasi tentang dampak dari berbagai aspek program terhadap siswa, dan berhasil juga teridentifikasi berbagai faktor yang perlu diperhatikan atau perlu penyempurnaan, misalnya kinerja guru, fasilitas pembelajaran, strategi pembelajaran yang digunakan, dan sebagainya. Singkatnya evaluasi program pembelajaran dapat berfungsi sebagai koreksi terhadap kesalahan maupun kekurangan program pembelajaran.
4. Meningkatkan partisipasi
Dengan adanya informasi hasil evaluasi program pembelajaran, maka orang tua atau masyarakat akan terpanggil untuk berpartisipasidan ikut mendukung upaya-upaya peningkatan kualitas pembelajaran. Hasil evaluasi progam pembelajaran yang dimasyarakatkan akan menggugah kepedulian masyarakat terhadap program pembelajaran, menarik perhatiannya, dan akhirnya akan menumbuhkan rasa ikut memiliki (self of belonging). Apabila hal ini terbina dengan baik, maka akan tercipta suatu control yang ikut memacu dan mengawasi kualitas pembelajaran. Selain itu, evaluasi juga merupakan upaya meningkatkan motivasi guru untuk meningkatkan kinerjanya. Informasi hasil evaluasi akan memberikan konfirmasi tentang komponen-komponen program pembelajaran yang masih lemah dan perlu ditingkatkan. Bagi siswa informasi hasil evaluasi yang berupa kemajuan hasil belajar siswa juga mempunyai manfaat untuk meningkatkan motivasi belajar.
D. Objek Evaluasi  Pembelajaran
Berdasarkan asumsi bahwa pembelajaran merupakan sistem yang terdiri atas beberapa unsur, yaitu masukan, proses dan keluaran/hasil; maka objek atau sasaran evaluasi program pembelajaran dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: evaluasi masukan, proses dan keluaran/hasil pembelajaran.
1.Evaluasi masukan pembelajaran menekankan pada penilaian karakteristik peserta didik, kelengkapan dan keadaan sarana dan prasarana pembelajaran, karakteristik dan kesiapan guru, kurikulum dan materi pembelajaran, strategi pembelajaran yang sesuai dengan mata pelajaran, serta keadaan lingkungan di mana pembelajaran berlangsung.
2.Evaluasi proses pembelajaran menekankan pada penilaian pengelolaan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru meliputi kinerja guru dalam kelas, keefektifan media pembelajaran, iklim kelas, sikap dan motivasi belajar siswa.
3. Penilaian hasil pembelajaran merupakan upaya untuk melakukan pengukuran terhadap hasil belajar siswa, baik menggunakan tes maupun non tes, dalam hal ini adalah penguasaan kompetensi oleh setiap siswa sesuai dengan karakteristik masing – masing mata pelajaran .
Terkait dengan ketiga objek atau sasaran evaluasi program pembelajaran tersebut, menurut Pusat Pengembangan Sistem Pembelajaran Lembaga Pengembangan Pendidikan Universitas Sebelas Maret (2007: 5) dalam praktek pembelajaran secara umum, pelaksanaan evaluasi program pembelajaran menekankan pada evaluasi proses pembelajaran atau evaluasi manajerial, dan evaluasi hasil belajar atau evaluasi substansial. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran kedua jenis evaluasi tersebut merupakan komponen sistem pembelajaran yang sangat penting. Evaluasi kedua jenis komponen yang dapat dipergunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan pelaksanaan dan hasil pembelajaran. Selanjutnya masukan tersebut pada gilirannya dipergunakan sebagai bahan dan dasar memperbaiki kualitas proses pembelajaran menuju ke perbaikan kualitas hasil pembelajaran. Dengan kata lain untuk memperbaiki kualitas hasil belajar siswa harus didahului dengan perbaikan terhadap kualitas proses pembelajaran.
Dalam konsep manajemen mutu, menurut Sudarwan Danim (2007: 12 -13) mutu pendidikan dilihat dari empat perspektif, yaitu masukan, proses, keluaran atau prestasi belajar, dan dampak atau utilitas lulusan. Dengan demikian, kebiasaan menilai mutu proses pembelajaran hanya dengan melihatnya dari prestasi belajar siswa semata tidaklah tepat. Dilihat dari pendekatan sistem pemecahan masalah, prestasi belajar siswa yang buruk bukanlah masalah, melainkan gejala atau indikator adanya masalah. Disebut bukan masalah karena prestasi belajar siswa yang buruk adalah sebuah realitas. Rahasia mengenai factor-faktor apa yang mempengaruhi buruknya hasil belajar siswa, strategi manajemen sekolah macam apa yang harus diterapkan, strategi pembelajaran apa yang harus dikemas agar siswa tahu bagaimana memecahan masalahnya sendirilah yang menjadi masalah.
Berdasarkan beberapa asumsi dan pendapat di atas, secara ringkas dapat disimpulkan bahwa objek evaluasi program pembelajaran yang pokok harus mencakup dua hal, yaitu:
1.Aspek manajerial, yaitu implementasi rancangan pembelajaran yang telah disusun oleh guru dalam bentuk proses pembelajaran, atau disebut juga dengan evaluasi kualitas proses pembelajaran.
2. Aspek substansial, yaitu hasil belajar siswa setelah mengikuti serangkaian proses pembelajaran yang dirancang oleh guru, atau disebut juga dengan penilaian hasil belajar siswa, baik menggunakan tes maupun non tes.
E. Evaluator Program Pembelajaran            
Ada dua kemungkinan asal (dari mana) orang untuk dapat menjadi evaluator program ditinjau dari program yang akan dievaluasi. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Menentukan asal evaluator harus mempertimbangkan keterkaitan orang yang bersangkutan dengan program yang akan dievaluasi.  Berdasarkan pertimbangan tersebut Suharsimi Arikunto dan Cep Safrudin (2008: 23 – 25) mengklasifikasikan evaluator menjadi dua macam, yaitu evaluator dari dalam (internal evaluator) dan evaluator dari luar (external evaluator).
1. Evaluator dari dalam
Yang dimaksud dengan evaluator dari dalam adalah petugas evaluasi program yang sekaligus merupakan salah saeorang dari anggota pelaksana program yang evaluasi. Berdasarkan batasan tersebut maka dalam evaluasi program pembelajaran guru menjadi evaluator dari dalam karena guru selain sebagai perencana sekaligus pelaksana program pembelajaran mempunyai kewajiban menilai, sikap dan perilaku maupun partisipasi siswa dalam proses pembelajaran, juga mempunyai kewajiban menilaihasil belajar siswa. Adapun kelebihan dan kekurangan evaluator dari dalam antara lain:
a. Kelebihan Evaluator dari dalam
1.Evaluator memahami betul program yang akan dievaluasi sehingga ke-khawatiran untuk tidak atau kurang tepatnya sasaran tidak perlu ada. Dengan kata lain, evaluasi tepat pada sasaran.
2.  Karena evaluator adalah orang dalam, pengambil keputusan tidak banyak mengeluarkan waktu dan biaya yang cukup banyak
b. Kekurangan  Evaluator dari dalam
1.Adanya unsur subjektivitas dari evaluator, sehingga berusaha menyampaikan aspek positif dari program yang dievaluasi dan menginginkan agar kebijakan tersebut dapat diimplementasikan dengan baik pula. Dengan kata lain, evaluator internal dapat dikhawatirkan akan bertindak subjektif.
2.Karena sudah memahami seluk belum program, jika evaluator kurang sabar, kegiatan evaluasi akan dilaksanakan dengan tergesa-gesa sehingga kurang cermat.
2. Evaluator dari luar
Yang dimaksud dengan evaluator dari luar adalah orang-orang yang tidak terkait dengan implementasi program. Mereka berada di luar dan diminta oleh pengambil keputusan untuk mengevaluasi keberhasilan program pembelajaran. Termasuk evaluator eksternal dalam evaluasi program pembelajaran di antaranya evaluasi yang dilakukan petugas yang ditunjuk oleh kepala sekolah maupun evaluasi yang dilakukan oleh petugas yang ditunjuk oleh dinas pendidikan.
a. Kelebihan Evaluator dari luar
1. Karena tidak berkepentingan atas keberhasilan program pembelajaran, evaluator dari luar dapat bertindak secara efektif selama melaksanakan evaluasi dan mengambil kesimpulan. Apapun hasil evaluasi tidak akan ada respon emosional dari evaluator karena tidak ada keinginan untuk memperlihatkan bahwa program tersebut berhasil. Kesimpulan yang dibuat akan lebih sesuai dengan keadaan dan kenyataan yang sebenarnya.
2.Seorang ahli yang ditunjuk biasanya akan mempertahankan kredibilitas kemampuannya, dengan begitu ia akan bekerja secara serius dan hati – hati.
b. Kekurangana Evaluator dari luar                  
1.Evaluator dari luar biasanya belum mengenal lebih dalam tentang program pembelajaran yang akan dievaluasi. Hal itu wajar karena evaluator tidak ikut dalam proses kegiatannya. Mereka berusaha mengenal dan mempelajari seluk beluk program tersebut setelah mendapat permintaan untuk mengevaluasi. Dampak dari kekurang pengetahuan tersebut memungkinkan kesimpulan yang diambil kurang tepat.
2.Pemborosan waktu dan biaya, pengambil keputusan harus mengeluarkan waktu dan biaya untuk membayar evaluator tersebut.
Melihat kelebihan dan kekurangan dari masing-masing evaluator, serta untuk lebih mengoptimalkan peran guru dalam evaluasi program pembelajaran, maka sebaiknya evaluator dalam evaluasi program pembelajaran merupakan kombinasi antara evaluator dari dalam dan evaluator dari luar. Sebagai contoh untuk evaluasi program pembelajaran pada setiap akhir pelaksanaan pembelajaran berkenaan dengan satu kompetensi dasar atau satu pokok bahasan evaluasi dilakukan oleh guru yang merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran. Sedangkan untuk evaluasi program pembelajaran pada setiap akhir semester atau pada akhir tahun dapat dilaksanakan oleh petugas yang ditunjuk dan diberi tanggung jawab oleh pimpinan sekolah, baik itu dilakukan oleh wakil kepala sekolah bidang kurikulum maupun bagian tertentu yang bertanggung jawab terhadap manajemen mutu sekolah.
F. Kriteria Evaluator
Untuk memperoleh hasil evaluasi yang akurat, maka diperlukan kriteria keberhasilan dan kriteria tertentu terutama bagi evaluator program, di bawah ini diuraikan kriteria tersebut
a. Memahami materi
Memahami materi yaitu memahami tentang seluk beluk program yang dievaluasi, antara lain :
1 . Tujuan program yang telah ditentukan sebelum dimulai kegiatan
2. Komponen komponen program
3. Variabel yang akan diujicobakan atau dilaksanakan
4. Jangka waktu dan penjadualan kegiatan
5. Mekanisme pelaksanaan program
6. Pelaksanaan program         
7. Sistem monitoring kegiatan program
Kriteria keberhasilan yang ditetapkan adalah dilihat dari materi, maka Evaluator membuat format pencapaian materi program yang direncanakan dibandingkan dengan yang telah digapai berdasarkan penjabaran point 1 sampai dengan 7.
 b. Menguasai Tekni
Menguasai teknik yaitu menguasai cara – cara atau teknik yang digunakan di dalarn melaksanakan evaluasi program. Karena kegiatan evaluasi program mengenai sejumlah evaluasi, maka evaluator program dituntut agar menguasai metodologi evaluasi, yang meliputi
1. Cara membuat perencanaan evaluasi
2. Teknik menentukan populasi dan sampel
3. Teknik menyusun instrumen
4. Prosedur dan teknik pengumpulan data
5. Penguasaan teknik pengolahan data
6. Cara menyusun laporan evaluasi
Untuk metodologi yang terakhir ini evaluator program harus menguasai sesuatu yang lebih dibandingkan dengan peneliti karena apa yang disampaikan akan sangat menentukan kebijaksanaan yang terkadang memiliki resiko lebih besar.
Kriteria keberhasilannya adalah seorang evaluator harus dapat membuat point 1 sampai dengan 6 secara opersional.
 c. Objektif dan Cermat
Tim evaluator adalah sekelompok orang yang mengemban tugas mengevaluasi program serta ditopang oleh data yang dikumpulkan secara cermat dan objektif. Atas dasar tersebut mereka diharapkan, mengklasifikasikan, mentabulasikan, mengolah dan sebagainya secara cermat dan objektif pula. Khususnya di dalam menentukan pengambilan strategi penyusunan laporan, evaluator tidak boleh memandang satu atau dua aspek sebagai hal yang istimewa dan tidak boleh pula memihak. Kriteria keberhasilan yang dipakai adalah apabila hasil penilaian dari evaluator dapat menunjukkan hasil yang objektif dengan alasan rasional dan didukung oleh data data yang akurat.
 d. Jujur dan Dapat Dipercaya
Evaluator adalah orang yang dipercaya oleh pengelola dan pengambil keputusan, oleh karena itu mereka harus jujur dan dapat dipercaya. Mereka harus dapat memberikan penilaian yang jujur, tidak membuat baik dan jelek, menyajikan data apa adanya. Dengan demikian pengelola dan pengambil keputusan tidalk salah membuat treatment akan programnya.
Terdapat  beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seorang evaluator agar dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara tepat, yaitu :
1.Evaluator hendaknya merupakan evaluator yang otonom artinya orang luar yang sama sekali tidak ada ikatan dengan pengambilan kebijaksanaan maupun pengelola dan pelaksanaan program.
2.Ada hubungan baik dengan responden dalam arti dapat memahami sedalam dalamnya watak, kebiasaan dan cara hidup klien yang akan dijadikan sumber data evaluasi.
3.Tanggap akan masalah politik dan sosial karena tujuan evaluasi adalah pengembangan program.
4.Evaluator berkualitas tinggi, dalarn arti jauh dari biasa. Evaluator adalah orang yang mempunyai self concept yang tinggi, tidak mudah terombang-ambing.
5.Menguasai teknik untuk membuat desain dan metodologi penelitian yang tepat untuk program yang dievaluasi.
6.Bersikap terbuka terhadap kritik. Untuk mengurangi dan menahan diri dari bias, maka evaluator memberi peluang kepada orang luar untuk melihat apa yang sedang dan telah dilakukan
7.Menyadari kekurangan dan keterbatasannya serta bersikap jujur, menyampaikan (menerangkan) kelemahan dan keterbatasan tentang evaluasi yang dilakukan.
8.Bersikap pasrah kepada umum mengenai penemuan positif dan negatif. Evaluator harus berpandangan luas dan bersikap tenang apabila menemukan data yang tidak mendukung program dan berpendapat bahwa penemuan negatif sama pentingnya dengan penemuan positif.
9.Bersedia menyebarluaskan hasil evaluasi. Untuk program kegiatain yang penting dan menentukan, hasil evaluasi hanya pantas dilaporkan kepada pengambil keputusan dalam sidang tertutup atau pertemuan khusus. Namun untuk program yang biasa dan dipandang bahwa masyarakat dapat menarik manfaat dari evailuasinya, sebaiknya hasil evaluasi disebarluaskan, khususnya bagi pihak pihak yang membutuhkan.
10.Tidak mudah membuat kontrak. Evaluasi yang tidak memenuhi persyaratan persyaratan yang telah disebutkan sebaiknya tidak dengan mudah menyanggupi menerima tugas karena secara etis dan moral akan merupakan sesuatu yang kurang dapat dibenarkan.
BAB  IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A.  KESIMPULAN
1.Peningkatan kualitas pembelajaran membutuhkan adanya peningkatan kualitas program pembelajaran secara berkelanjutan dan berkesinambungan. Untuk meningkatkan kualitas program pembelajaran membutuhkan informasi tentang implementasi program pembelajaran sebelumnya. Hal ini dapat diperoleh dengan dilakukannya evaluasi terhadap program pembelajaran secara periodik.
2. Untuk lebih mengoptimalkan peran guru dalam evaluasi program pembelajaran, maka sebaiknya evaluator dalam evaluasi program pembelajaran merupakan kombinasi antara evaluator dari dalam dan evaluator dari luar dimana evaluator tersebut mempunyai integritas memehami materi, menguasai teknik evaluasi, obbjektif dan cermat, jujur dan dapat dipercaya.
B.  SARAN                         
1. Dalam fungsinya sebagai penilai hasil belajar siswa, guru hendaknya terus menerus mengikuti hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa dari waktu ke waktu. Informasi yang diperoleh melalui evaluasi ini merupakan umpan balik (feed back) terhadap proses belajar mengajar. Umpan balik ini akan dijadikan titik tolak untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar mengajar selanjutnya. Dengan demikian proses belajar mengajar akan terus dapat ditingkatkan untuk memperoleh hasil yang optimal.
2. Kepada evaluator di tingkat sekolah, seperti Kepala Sekolah dan Pengawas Pembina hendaknya dalam tugas monitoringnya memiliki jadwal yang terprogram dan simultan, agar Program Pembelajaran Guru dapat terkontrol dengan baik.



DAFTAR  PUSTAKA

Nana Sudjana, Ibrahim, 2007,Penelitian dan Penilaian Pendidikan, Sinar Baru Algesindo,
Departemen Pendidikan Nasional, 2000, Penilaian dan Pengujian Untuk Guru.
Sudarwan Danim. (2007). Visi Baru Manajemen Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara
Suharsimi Arikunto dan Cep Safrudin A.J. (2008). Evaluasi Program Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Suharsimi Arikunto. (2008). Dasar-dasar evaluasi pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Djemari Mardapi. (2000). Evaluasi pendidikan. Makalah disampaikan pada Konvensi Pendidikan Nasional tanggal 19 – 23 September 2000 di Universitas Negeri Jakarta.
Djemari Mardapi. (2008). Teknik penyusunan instrumen tes dan non tes. Yogyakarta: Mitra Cendekia
Farida Yusuf Tayibnapis. (2000). Evaluasi Program. Jakarta:  Rineka Cipta
Anas Sudijono (1998) Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta ; P>T. Raja Grafindo Persada
Griffin, P. & Nix, P. (1991). Educational Assessment and Reporting. Sydney: Harcout Brace Javanovich, Publisher
Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
http//www.evaluasipendidikan.blogspot.com.